Kamis, 17 Januari 2013

ESTAFET

BAB 1

          Kenapa orang-orang itu berlarian semua ke arah jalan besar ya? sampai-sampai bakso yang ku pesan tadi pun gak jadi dibuatkan oleh si penjual karena penjualnnya pun juga ikut lari ke arah jalanan. Daripada aku bengong mendingan aku ikut orang-itu dan mungkin aja ada yang tabrakan. Begitu nyampe sana aku kaget lo karena yang di tengok orang-orang ini 2 orang pemuda berusia sekitar 25 an dan saling pukul memukul tapi orang-orang ini malah menonton bukannya memisahkan.

"Heekh! a.. a.. aaakk!!"
"Mampus kau kan! makanya jangan maju-maju kali kau jadi orang!"
"A.. ak.. aku.. aku hanya mem.. minta re.. restu dari mu a.. ja.."
"Apa restu!? kau pikir kau ini siapa hah!? takkan ku ijinkan kau pacari adikku!"
"To.. tolonglah aku benar-benar ci.. cinta sama Vero.."
"Cinta katamu!? kau itu hanya playboy. Aku gak akan biarkan adikku kau sakiti. Kau langkahi dulu tiang listrik jika mau pacari adikku!"
Hah tiang listrik? bagaimana caranya melangkahi tiang listrik? Dia serius atau lagi bercanda ya?

"Bang, apapun syarat yang kau kasi untukku akan kuterima asalkan aku mendapat restumu."
"Oke baik, kalau begitu aku punya pekerjaan untukmu, jumpain aku di alamt ini besok jam 10.00 pagi dan jangan terlambat. Ngerti kau?"
"Baik aku datang besok."
          
          Dan akhirnya pemuda kekar yang tadi memukuli itu pergi meninggalkan pemuda yang terkapar dan segera di tolong oleh warga yang menonton tadi. Baju kaos hitamnya terlihat sobek di bagian leher dan penuh debu. Celana jeans bluenya juga terlihat dekil ditambah bekas sesuatu yang tumpah sepeti kuah bakso. Perangainya biasa aja dengan model rambut teratur mengarah kesamping seperti boyban asal korea. 

"Kau orang baru di sini dek?" Aku terhentak dan gak ku sadari rupanya ada seorang bapak separuh baya di belakangku dengan membawa handuk kumal. 
"I.. iya pak, aku berasal dari kota Permadani dan aku datang ke sini untuk melanjutkan kuliahku pak." 
"Oo perantau rupanya, kuliah dimana kau dek?"
"Di Universitas Satya Negara pak."
"Uda dapet tempat tinggal di sini?"
"Kebetulan aku punya saudara juga di dekat sini pak dan tadi aku lagi nyari bakso karna di rumah gak ada apa-apa, maklum Tulangku lagi sibuk kerja."
"Oh baguslah kalau begitu, nah ayo ikut bapak ke warung baksonya bapak, pasti kau kelaparan kan?"
"Hehe iya pak, tadi juga uda mesan cuman yang jual malah lari nonton orang berantam tadi"
    
          Si bapak hanya tertawa mendengar penjelasanku, lalu dia mengelap keringat di keningnya dengan handuk kumal yang dipegannya tadi. Dan akhirnya sampailah aku di depan sebuah restourant bakso terbesar di daerah itu dan si bapak tadi segera mengajakku masuk.

"Sini dik kita makan dulu kebetulan bapak juga lagi istirahat makan siang"
"Oh iya pak, aku di sini makanannya mahal ya? uangku cuma Rp 10.00 pak"
"Hehe, gak papa bapak traktir kau makan karna kita sekampung dan kau juga orang baru di sini"
"Hah traktir? aduh gak usah la pak aku gak mau ngerepotin neh"
"Ah selo la kau gak papa, anggap aja ini sebagai salam perkenalan kita"
"iya pak terimakasih pak"

Bersambung...